Aktivitas Tambang Ilegal di Hulu Sungai Dusun Kulur Laut Sebabkan Pendangkalan, Warga Setempat Mengeluh

  • Whatsapp
DAS Dusun Kulur Laut yang mulai dangkat akibat aktivitas ilegal. (Foto:Mirja/Faberta)

BANGKA TENGAH, FABERTA — Dusun Kulur Laut, Desa Kulur Ilir, Kecamatan Lubuk Besar memiliki norma yang berlaku di kalangan masyarakat yaitu menjaga aliran sungai tetap normal dengan melarang masyarakat membuka tambang ilegal. Namun beberapa oknum tidak mengindahkan aturan tersebut sehingga tetap melakukan aktivitas ilegal tersebut.

Pantauan faktaberita.co.id, akibat adanya aktivitas tambang ilegal di hulu sungai, menyebabkan terjadi ya pendangkalan di daerah aliran sungai (DAS) Dusun Kulur Laut serta air yang keruh akibat limbah hasil aktivitas tambang ilegal yang dibuang ke sungai.

Bacaan Lainnya

Salah satu warga setempat, Rohani mengatakan, tambang ilegal tersebut sangat menghambat aktivitas mereka karena aliran sungai sering digunakan masyarakat untuk mencuci baju, dan keperluan rumah tangga lainnya.

“Akibat limbah tambang seperti lumpur dan pasir dibuang ke sungai, menyebabkan sungai mengalami pendangkalan yang semula mencapai 3-5 meter, sekarang tinggal 1,5 meter saja. Terkadang kami pun harus menunggu air sungai jernih dulu baru bisa mencuci baju,” ujarnya saat ditemui, Senin (5/7/2021).

Demikian hal dengan Acu, warga setempat yang dulu pernah menambang tersebut mengungkapkan harapannya agar tambang di aliran sungai Dusun Kulur Laut tidak lagi beroperasi agar fungsi sungai kembali seperti semula.

Tentu hal ini mendapat respon dari Dan selaku Kepala Dusun Kulur Laut. Ia mengatakan kalau sejak awal pemilik tanah dan penambang tidak pernah melibatkannya soal izin beraktivitas.

“Sejak awal berakitvitas memang tidak ada izin sama sekali, baik antara pemilik tanah maupun penambang, ketika masyarakat mulai resah, baru oknum penambang ini izin ke kami,” ungkapnya.

Kemudian, pernah saat itu, Kepala Dusun mengatakan kepada para penambang, boleh dilakukan penambangan asalkan ada surat perjanjian untuk andil atau bisa turut berkontribusi pada saat normalisasi aliran sungai nantinya. Setelah itu satu per satu penambang meninggalkan lokasi tersebut.

“Normalisasi aliran sungai sudah sesuai dengan agenda pemerintahan desa. Ketika aktivitas ilegal tersebut terus berjalan, maka pemilik tanah dan penambang harus turut andil dalam normalisasi aliran sungai, mau itu berupa materi atau non materi,” ucap Kepala Dusun. (Mirja)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *