Antara Jaring dan Buku: Dilema Pilihan Hidup Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok

Oleh: Berlian Birly Aeywaldy, Tania Januarti, Shakira Mahendra Putri, Anis, Amirah Tsania Khansa.

FAKTA BERITA – Kepulauan Pongok di Bangka Selatan seolah menyimpan dua wajah kehidupan. Di satu sisi, laut yang membentang luas menawarkan sumber penghidupan yang nyata. Namun di sisi lain, pendidikan masih menjadi mimpi yang terasa jauh bagi banyak remaja.

Sejak resmi menjadi kecamatan pada 2012, Kepulauan Pongok mencakup dua pulau utama, yakni Pongok dan Celagen. Secara geografis, wilayah ini memang dikelilingi laut lepas, dengan 95 persen penduduknya bergantung hidup sebagai nelayan. Laut bukan hanya bagian dari identitas, tetapi juga menjadi nadi ekonomi masyarakat setempat.

Namun, di balik keberkahan hasil laut, ada persoalan sosial yang tak kalah penting: tingginya angka putus sekolah di kalangan remaja. Realitas ekonomi membuat banyak keluarga lebih memilih anaknya ikut melaut ketimbang melanjutkan pendidikan. Sekolah sering dipandang mahal dan tidak memberi hasil instan, sementara menebar jaring bisa langsung membawa pulang uang untuk makan hari ini.

Bagi sebagian remaja, keputusan meninggalkan bangku sekolah bukanlah karena malas belajar, melainkan karena tekanan ekonomi dan sulitnya akses. Anak-anak Desa Celagen, misalnya, harus menyeberang laut hanya untuk bersekolah di Desa Pongok. Perlahan, putus sekolah dianggap sebagai pilihan hidup yang wajar, bahkan bukan kegagalan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *