Bangka Belitung dan Tantangan Potensi Maritim di Tengah Keterbatasan Pelabuhan

Istirahat Setelah Melaut - Seorang nelayan sedang bersantai di pinggir dermaga setelah menepikan kapalnya sepulang melaut di Dermaga Tempat Pelelangan Ikan ( TPI) Ketapang Pangkalpinang. Doc. Faberta 2021 Foto: Januar (Faberta)

FAKTA BERITA, PANGKALPINANG – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang terletak di timur Pulau Sumatera, memiliki potensi maritim yang sangat besar. Dengan luas laut yang mencapai 65.301 kmĀ² atau sekitar 79,90% dari total wilayah provinsi, sektor kemaritiman menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah ini. Namun, keterbatasan infrastruktur pelabuhan masih menjadi kendala utama dalam memaksimalkan potensi tersebut.

 

Hingga saat ini, Bangka Belitung hanya memiliki delapan pelabuhan aktif di dua pulau besarnya, yakni Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Pelabuhan-pelabuhan ini terdiri dari Pelabuhan Angkatan Laut dan Pelabuhan Penyeberangan. Pelabuhan Sadai di Bangka Selatan merupakan satu-satunya yang memiliki fungsi ganda. Sementara itu, Pelabuhan Belinyu, Pangkalbalam, Tanjungpandan, dan Tanjung Batu berfungsi sebagai Pelabuhan Angkatan Laut. Adapun Pelabuhan Tanjung Kalian, Tanjung Ru, dan Manggar berperan sebagai Pelabuhan Penyeberangan.

 

Interkonektivitas antar pulau untuk mewujudkan konsep Indonesia Sentris masih jauh dari harapan. Meskipun secara geografis Bangka Belitung berada di jalur strategis perdagangan internasional, termasuk Jalur Sutra, keterbatasan kapasitas pelabuhan dan masalah pendangkalan alur membuat kapal bertonase besar sulit bersandar. Hal ini mengakibatkan aktivitas bongkar muat menjadi terhambat, dan potensi ekonomi tidak maksimal masuk ke kas daerah.

 

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, pada tahun 2022, sektor perikanan tangkap di laut dan darat Bangka Belitung menghasilkan 222.067 ton dengan nilai mencapai Rp8,2 triliun. Selain itu, sektor pertambangan timah di daratan juga berkontribusi besar dengan pendapatan sebesar 173 juta dolar dari produksi 5,94 juta ton per April 2024. Meski demikian, tanpa dukungan infrastruktur pelabuhan yang memadai, potensi ini sulit berkembang optimal.

 

Upaya pengembangan Pelabuhan Belinyu menjadi pelabuhan ekspor-impor berkapasitas 10.000 GT sudah mulai digagas sejak masa Gubernur Babel Erzaldi Rosman. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang ekspor-impor langsung dari Bangka Belitung, tanpa harus melalui pelabuhan di luar provinsi. Rencana ini sudah dalam tahap komunikasi dengan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Pelabuhan dan Pengerukan, dan kini sedang dalam pertimbangan pemerintah pusat.

 

Di sisi lain, upaya digitalisasi juga mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi pelabuhan di Bangka Belitung. Aplikasi Inaportnet, yang merupakan sistem layanan tunggal secara elektronik berbasis internet, sudah diterapkan di Pelabuhan Tanjung Kalian dan Pelabuhan Manggar. Aplikasi ini dirancang untuk memberikan pelayanan kapal dan barang secara transparan, mempercepat proses, serta mengurangi biaya.

 

Namun, untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Sentris di Bangka Belitung, seluruh instrumen pendukung interkonektivitas harus terpenuhi. Hal ini mencakup perluasan dan peningkatan kapasitas dermaga, aktifnya layanan Inaportnet di semua pelabuhan, serta ketersediaan kapal yang memadai. Jika semua ini terealisasi, potensi maritim dan ekonomi Bangka Belitung dapat berkembang maksimal, memberikan dampak positif bagi daerah dan negara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *