NASIONAL, FABERTA — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengakui, pemerintah sulit untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional atau RPJMN. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi sejauh ini selalu stagnan di level 5 persen per tahun.
“Selama ini sasaran pertumbuhan ekonomi jangka menengah kita sulit tercapai karena pertumbuhan ekonomi kita stagnan di 5 persen,” kata Suharso dalam Rapat Kerja (Raker) bersama dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (30/8/2021).
Menurutnya, rata-rata pertumbuhan ekonomi setelah krisis finansial Asia lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata sebelum krisis dan dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan. Sejak tahun 2014, ekonomi Indonesia tumbuh di bawah pertumbuhan potensialnya.
Paska merebaknya pandemi Covid-19, kata Suharso, pertumbuhan ekonomi potensial diperkirakan berada di bawah 5 persen pascapandemi, jika tidak ada upaya ekstra. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun disebut selalu tumbuh di bawah pertumbuhan potensialnya.
“Kita lihat ini dari 5 tahun setiap 5 tahun sejak krisis 1998 kemudian RPJMN 2005-2009, 2010-2014, dan 2015 sampai 2019 relatif kita bermain di angka 5 persen dan ini sejak tahun 2014 kita lihat bahwa pertumbuhan ekonomi kita senantiasa tumbuh di bawah potensialnya,” kata dia.
Suharso menambahkan, akibat krisis, tanpa upaya ekstra (business as usual) dengan pertumbuhan rata-rata 5 persen per tahun, kesenjangan pendapatan per kapita akan semakin melebar.
Lanjutnya, pertumbuhan rata-rata 6 persen melalui redesain transformasi ekonomi dapat mengecilkan gap pendapatan per kapita dan mendekati trajectory Visi Indonesia 2045 sebelum pandemi.
“Kemudian akibat krisis realisasi dan trajectory dari PDB nominal per kapita kita tentu terkoreksi dan kalau kita tetap dengan business as usual maka memang tekanan kita untuk kembali ke upper middle income mungkin tergeser cukup jauh ke belakang,” pungkasnya.



















