FAKTA BERITA, BANGKA BARAT — Sejumlah nelayan di Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, meminta adanya audit terhadap distribusi Biosolar bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Desa Benteng Kota. Permintaan tersebut disampaikan menyusul keluhan nelayan yang mengaku kesulitan mendapatkan BBM untuk kebutuhan melaut, Selasa (16/6/2026).
Para nelayan berharap pemerintah dan pihak terkait dapat membuka data penyaluran BBM bersubsidi tersebut, mulai dari jumlah pasokan yang diterima, volume distribusi, hingga daftar penerima. Langkah itu dinilai penting agar penyaluran Biosolar benar-benar tepat sasaran sesuai peruntukannya.
Salah seorang nelayan Tempilang, Ali (56), mengatakan keberadaan SPBN seharusnya menjadi solusi bagi nelayan kecil dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal. Namun, menurutnya, kondisi di lapangan masih membuat sebagian nelayan kesulitan mendapatkan solar saat akan melaut.
“Kalau melihat papan itu tertulis Biosolar, tentu kami berharap itu memang untuk nelayan. Tapi kenyataannya kami sering tidak kebagian. Itu yang membuat kami mempertanyakan bagaimana sistem penyalurannya,” ujar Ali.
Ia menyebut, beberapa nelayan harus datang berulang kali untuk mendapatkan BBM, namun terkadang stok telah habis atau jumlah yang diterima terbatas.
“Kadang kami datang, solar sudah habis. Kadang dapat tapi jumlahnya terbatas, sementara kebutuhan untuk melaut tetap ada,” katanya.
Menurut Ali, kondisi tersebut cukup berpengaruh terhadap aktivitas nelayan karena solar menjadi kebutuhan utama untuk mengoperasikan kapal. Ketika BBM sulit diperoleh, nelayan terpaksa menunda keberangkatan dan berdampak terhadap pendapatan mereka.



















