BMKG Peringatkan RI Siaga Musim Kemarau

Ilustrasi kekeringan (freepik)

FAKTA BERITA, NASIONAL — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan Indonesia siap siaga kemarau. Potensi kekeringan meteorologis pun mengancam RI saat musim kemarau.

Mengutip CNBC Indonesia, dalam update bulan Juni 2024, BMKG mengungkapkan, 36% zona musim (ZOM) Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Wilayah yang telah mengalami musim kemarau meliputi Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.

“BMKG memberikan rekomendasi teknis untuk mitigasi dan antisipasi kekeringan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC),” tulis BMKG dalam unggahan di akun Instagram resmi, dikutip Selasa (11/6/2024).

Sebelumnya BMKG pun telah memperingatkan sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami kekeringan meteorologis pada musim kemarau sehingga membutuhkan kesiagaan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Hal itu telah dilaporkan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada akhir Mei 2024 lalu.

BMKG memprediksi, kondisi kekeringan selama kemarau akan mendominasi hingga bulan September 2024. Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau. Terutama wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang sudah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) yang cukup panjang.

Secara khusus BMKG memprakirakan, ada 3 wilayah di RI yang bakal mengalami kekeringan selama 5 bulan, mulai Juni sampai bulan Oktober 2024. Karena itu, dia meminta pemerintah gerak cepat melakukan mitigasi mengatasi dampak kekeringan.

“Curah hujan sangat rendah pada Agustus 2024 berpotensi terjadi di Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan dan Tenggara. Pada September 2024 masih berpeluang terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur,” kata Dwikorita dalam keterangan di situs resmi, dikutip Selasa (11/6/2024).

“Pada Oktober 2024 kondisi serupa di sebagian Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Timur. Dimulai dari Juni hingga Oktober. Ini perlu disiapsiagakan, perlu mitigasi khusus dampak kekeringan,” tambahnya mengingatkan.

Lalu apa itu kekeringan meteorologis?

BMKG menjelaskan, kekeringan meteorologis merupakan kondisi anomali iklim dalam bentuk berkurangnya curah hujan dalam jangka waktu bulanan, musiman, atau lebih panjang.

BMKG mengungkapkan sederet dampak kekeringan meteorologis yang dapat mengancam, yaitu:

– sektor pertanian: penurunan hasil panen dan gagal panen

– pemukiman dan kesehatan masyarakat: berkurangnya pasokan air bersih

-sektor energi: produksi listrik dair sumber daya air dapat terganggu

– sektor ekonomi: keberlanjutan sumber daya air untuk produksi pertanian dan industri

– sektor transportasi: kabut asap dapat menghambat sistem transportasi.

BMKG kemudian menjabarkan 3 langkah yang harus dilakukan untuk meminimalkan dampak potensi kekeringan.

Berikut rekomendasi BMKG saat siap siaga kemarau:

1. melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk pengisian waduk dan membasahi, serta menaikkan muka air tanah pada daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau lahan gambut

2. menyesuaikan pola dan waktu tanam di wilayah terdampak

3. memanen air hujan melalui tandon atau tampungan air, embung, kolam retensi, dan sumur resapan di wilayah yang mengalami transisi dari musim hujan ke musim kemarau.

 

 

 

 


Artikel ini sebelumnya sudah terbit di CNBC Indonesia dengan judul ‘RI Siaga Musim Kemarau, BMKG Ingatkan Lakukan 3 Hal Ini Lawan Petaka’ pada 11 Juni 18.10 WIB. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *