BPS Catat Deflasi 0,62 Persen di Bangka Barat, Konsumsi Masyarakat Mulai Normal

FAKTA BERITA, BANGKA BARAT — Kabupaten Bangka Barat mengalami deflasi sebesar 0,62 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Mei 2026. Meski demikian, secara tahunan (year-on-year/y-on-y) daerah tersebut masih mencatat inflasi sebesar 2,75 persen, yang menunjukkan harga barang dan jasa secara umum masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, berdasarkan data Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bangka Barat, Senin (2/6/2026).

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Bangka Barat, Heru Warsito, mengatakan deflasi yang terjadi pada Mei 2026 merupakan pola musiman yang lazim terjadi setelah momentum Ramadan, Idulfitri, dan libur panjang.

Menurutnya, penurunan konsumsi masyarakat bukan menjadi indikator melemahnya perekonomian, melainkan bagian dari proses normalisasi setelah tingginya aktivitas belanja selama masa Lebaran.

“Penurunan konsumsi bukan berarti perekonomian melemah, melainkan proses normalisasi setelah aktivitas ekonomi tinggi saat Lebaran. Masyarakat menahan pengeluaran dan mengatur ulang prioritas keuangan,” ujar Heru.

Ia menjelaskan, aktivitas ekonomi di Bangka Barat masih berjalan normal, terutama pada sektor jasa, transportasi, perdagangan, dan investasi. Karena itu, perlambatan konsumsi pasca-Lebaran dinilai sebagai penyesuaian ekonomi yang sehat.

BPS mencatat deflasi bulanan dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan sebesar 1,53 persen dengan andil deflasi mencapai 0,67 persen.

Sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi di antaranya udang basah, daging ayam ras, cumi-cumi, ikan kembung, ikan tenggiri, telur ayam ras, cabai rawit, dan bawang putih.

Penurunan harga ikan disebut terjadi seiring menurunnya aktivitas transaksi di pasar ikan tradisional sejak awal Mei 2026.

Pos terkait