BWS Bangka Belitung Bangun Tanggul Rangkui, Tekan Risiko Banjir di Pusat Kota

Sosialisasikan dalam forum koordinasi yang digelar Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (SNVT PJSA) BWS Bangka Belitung pada Selasa (7/7/2026) di Aula Kantor Kecamatan Taman Sari. (Faberta)

PANGKALPINANG, FAKTA BERITA — Upaya serius menekan risiko banjir tahunan di Kota Pangkalpinang akhirnya memasuki tahap konkret. Pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung mulai merealisasikan pembangunan tanggul dan normalisasi alur Sungai Rangkui sebagai langkah strategis melindungi kawasan ekonomi dan permukiman warga dari ancaman limpasan air.

Program yang didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 ini menjadi bagian penting dari skema besar pengendalian banjir perkotaan. Fokus utamanya tidak hanya memperbaiki kerusakan infrastruktur, tetapi juga memulihkan stabilitas lingkungan di sepanjang bantaran sungai.

Kegiatan ini disosialisasikan dalam forum koordinasi yang digelar Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (SNVT PJSA) BWS Bangka Belitung pada Selasa (7/7/2026) di Aula Kantor Kecamatan Taman Sari.

Perwakilan BWS Bangka Belitung, Agus Angka, mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan program pengendalian banjir. Dari total kebutuhan sekitar Rp5 miliar, nilai kontrak yang berhasil direalisasikan sebesar Rp4,08 miliar.

“Dari sisi penganggaran memang tidak mudah. Tahun depan pun belum tentu kita mendapat alokasi lagi. Karena itu, mari kita manfaatkan anggaran yang ada ini sebaik mungkin, sekaligus membuktikan bahwa masyarakat mendukung penuh program ini,” ujarnya.

Ia menegaskan, pengendalian banjir idealnya dilakukan secara menyeluruh sesuai dengan master plan yang telah disusun. Namun, realisasi di lapangan saat ini dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran.

“Kami berharap ke depan seluruh tanggul dari pintu air hingga hilir bisa ditinggikan secara menyeluruh. Begitu juga normalisasi sungai dapat dilakukan secara penuh,” tambahnya.

Secara teknis, proyek ini mencakup tiga fokus utama intervensi fisik yang saling terintegrasi. Pertama, pembangunan Dinding Penahan Tanah (DPT) menggunakan beton bertulang K-250 yang diperkuat dengan cerucuk miring untuk menahan abrasi tebing di kawasan Kelurahan Kejaksaan.

Pos terkait