NASIONAL, FAKTABERITA — Kondisi geopolitik di Timur Tengah memanas setelah Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke Israel pada Sabtu malam (13/4/2024). Konflik di Tumur Tengah diperkirakan akan melambungkan harga komoditas mulai dari emas hingga minyak mentah.
Seperti diketahui, serangan drone pada Sabtu yang merupakan serangan langsung pertamanya terhadap wilayah Tel Aviv. Ini berisiko meningkatkan eskalasi regional karena Amerika Serikat (AS) berjanji memberikan dukungan “kuat” kepada Israel.
Serangan Iran terjadi ketika proksi Teheran di Irak, Lebanon, Suriah dan Yaman melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran-sasaran Israel dan Barat sejak tanggal 7 Oktober, ketika Hamas yang didukung Iran melancarkan serangan teror yang menghancurkan di Israel selatan, sehingga memicu serangan membabi buta Tel Aviv ke Gaza, Palestina.
Letak geografis Iran dan Israel yang berada di Timur Tengah adalah salah satu alasan mengapa konflik kedua negara bisa memicu harga minyak. Timur Tengah adalah salah satu wilayah dengan produsen terbesar di dunia.
Posisi Israel sebagai sekutu Amerika Serikat (AS) juga dikhawatirkan bisa membawa konflik di Timur Tengah meluas sehingga dampak ke ekonomi bisa semakin besar.
Ada beberapa skenario buruk yang berdampak negatif ke Indonesia jika konflik Iran vs Israel meluas, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Harga minyak melambung
Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia dengan produksi sekitar 3,9 juta barel per hari (bpd). Ekspor minyak mereka diperkirakan mencapai 1,29 juta bpd pada 2023.
Perang tidak hanya akan mengganggu produksi tetapi juga jalur distribusi sehingga ada persoalan pada pasokan. Kondisi inilah yang bisa memicu harga minyak melambung.
Sebagai gambaran, harga minyak langsung terbang 4% pada Senin setelah perang Israel vs Hamas meletus di akhir pekan pada 7 Oktober 2023. Perang Rusia-Ukraina juga mengerek harga minyak hingga menembus US$ 100 per barel dalam hitungan dua hari setelah konflik meletus pada 24 Februari 2022.
Bank Dunia dalam Commodity Markets Outlook pada Oktober 2023 membeberkan tiga skenario pasokan minyak saat perang Hamas vs Israel meletus.
Skenario pertama adalah adanya “gangguan kecil” di mana pasokan minyak dunia hanya berkurang 500.000-2 juta bpd.
Skenario kedua adalah “medium” di mana pasokan harga minyak berkurang 3-5 juta bpd. Skenario ketiga adalah “besar” di mana dampaknya bisa mengurangi pasokan 6-8 bpd.
Dampak perang memang tidak akan sbesar pada 1973 saat terjadi boikot Israel tetapi tetap akan berimbas banyak ke sejumlah negara.
Dari Oktober 1973 hingga Maret 1974, ketika perang Yom Kippur memicu embargo minyak terhadap pendukung Israel oleh negara-negara Arab, harga minyak melonjak lebih dari 300%.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi beban karena Indonesia merupakan net importir minyak.
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi atapun subsidi bisa dinaikkan jika harga minyak terus melambung. Dampak lainnya adalah subsidi BBM yang bisa melesat.
2. Inflasi global meningkat
Ketika harga minyak mentah melonjak, ancaman inflasi yang tinggi kembali menghantui perekonomian global. India, China, dan negara-negara besar lainnya merupakan importir minyak yang besar dan dapat mengalami inflasi impor yang tinggi jika harga minyak tetap tinggi.
AS juga merupakan konsumen minyak terbesar di dunia sehingga kenaikan harga minyak bisa kembali mengerek inflasi.
Ketika harga minyak naik, biaya produksi berbagai industri dan biaya energi untuk dunia usaha dan rumah tangga juga meningkat sehingga mendorong inflasi lebih tinggi.
Inflasi global yang tinggi ini tentu saja akan menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena akan membuat pelonggaran suku bunga global menjauh.



















