Dari Namang untuk Dunia: Jejak Kepemimpinan Kepala Desa H. Muhammad Zaiwan

FAKTABERITA, BANGKA TENGAH – Tidak semua pemimpin lahir dari ruang-ruang kekuasaan. Sebagian justru tumbuh dari desa kecil, dengan tanah becek, konflik warga, dan persoalan hidup yang nyata. Dari ruang itulah sosok H. Muhammad Zaiwan, membangun kepemimpinannya, Senin (26/1/2026).

Lahir di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, pada 15 Agustus 1979, Zaiwan tidak pernah membayangkan dirinya akan dikenal hingga tingkat nasional dan internasional. Ia memulai segalanya sebagai anak desa biasa, tumbuh bersama masyarakat agraris, dan memahami langsung denyut kehidupan warganya.

Hari ini, Zaiwan dikenal sebagai Kepala Desa Namang yang berhasil membawa desanya menembus panggung nasional hingga global.

Pemimpin yang Hadir di Tengah Warga

Sebagai kepala desa, Zaiwan dikenal bukan sebagai pemimpin yang menjaga jarak. Ia lebih sering ditemui di lapangan ketimbang di balik meja kantor. Dari hutan, sawah, hingga rumah warga yang bermasalah, Zaiwan memilih hadir secara langsung.

Bagi masyarakat Namang, ia bukan sekadar kepala desa administratif, melainkan figur pemimpin yang mudah ditemui, mudah diajak bicara, dan siap terlibat dalam persoalan warganya.

“Kalau pemimpin tidak tahu langsung masalah warganya, maka kebijakan hanya akan jadi kertas,” kata Zaiwan suatu ketika.

Juru Damai Masyarakat

Salah satu peran penting Zaiwan adalah sebagai mediator sosial. Ia menyandang gelar Non Litigation Peacemaker (NLP), sebuah pengakuan atas perannya dalam menyelesaikan konflik warga melalui pendekatan damai.

Dalam berbagai kasus sengketa keluarga, konflik tanah, hingga persoalan sosial, Zaiwan lebih memilih jalur mediasi dan keadilan restoratif dibandingkan membawa masalah ke ranah hukum formal.

Tidak jarang, ia turun langsung di malam hari untuk menenangkan konflik yang berpotensi membesar.

Pendekatan ini membangun kepercayaan sosial yang tinggi di Desa Namang dan menjadikan pemerintah desa sebagai ruang penyelesaian masalah, bukan sekadar lembaga administratif.

Mengubah Potensi Desa Menjadi Kekuatan Ekonomi

Di bawah kepemimpinan Zaiwan, Desa Namang mengalami transformasi ekonomi berbasis potensi lokal. Ia melihat alam bukan sebagai ruang eksploitasi, tetapi sebagai sumber daya jangka panjang.

Hutan Pelawan dan madu pahit yang sebelumnya hanya dikenal di tingkat lokal, dikembangkan menjadi ikon ekonomi kreatif desa. Melalui pendekatan smart village, pemerintah desa mendorong: Pengembangan ekowisata Hutan Pelawan, Penguatan UMKM berbasis madu pelawa, Digitalisasi promosi desa Pelestarian budaya lokal seperti ritual Murok Jerami Produk-produk desa bahkan dibawa hingga Trade Expo Indonesia (TEI) dan mulai menembus pasar internasional.

Di saat banyak kepala desa menjadikan jabatan sebagai batu loncatan politik, Zaiwan memilih jalan berbeda. Meski beberapa kali mendapat tawaran untuk berkiprah di tingkat nasional dan dunia korporasi, ia tetap memilih tinggal di Namang. Baginya, desa bukan tempat persinggahan, melainkan ruang pengabdian. Loyalitas itu terlihat dari konsistensinya membangun ekonomi kolektif, memperkuat pendidikan pemuda desa, dan memastikan setiap kebijakan berdampak langsung pada masyarakat.

Deretan Prestasi Nasional dan Internasional

Pos terkait