FAKTA BERITA, BANGKA TENGAH — Klaim bahwa 85 persen warga Bangka Tengah mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Thorcon di Pulau Gelasa menimbulkan tanda tanya besar. Alih-alih menenangkan publik, hasil survei itu justru memantik gelombang keraguan dari masyarakat, akademisi, hingga pemerhati lingkungan.
Forum Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Bangka Belitung (UBB) pada Rabu (15/10/2025), disebut belum mencerminkan keterlibatan publik yang sebenarnya. Banyak warga merasa tidak pernah diajak bicara, apalagi dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
“Kami ingin tahu, siapa yang disurvei? Dari desa mana saja? Banyak nelayan di pesisir belum pernah ditanya, bahkan belum paham apa itu PLTN Thorcon,” ujar Rudi, tokoh masyarakat Bangka Tengah, dengan nada heran.
Menurut laporan tim peneliti UNS dan UBB, tingkat penerimaan masyarakat terhadap PLTN disebut mencapai 85 persen. Namun di lapangan, realitas berbicara lain. Ketakutan terhadap ancaman keselamatan, limbah radioaktif, dan dampak ekologis masih menjadi percakapan utama di warung kopi, di pantai, dan di rumah-rumah warga.
“Angka survei itu terlalu mulus untuk dipercaya. Bagaimana bisa mayoritas setuju, kalau masih banyak warga takut dengan risiko kebocoran reaktor atau pencemaran laut? Jangan jadikan survei sebagai alat pembenaran,” kritik Fitri, mahasiswi salah satu universitas di Pangkalpinang.
Sebagian besar masyarakat di pesisir masih hidup dari laut. Mereka khawatir proyek nuklir pertama yang digarap PT Thorcon di Indonesia itu akan membatasi akses ke zona tangkap ikan. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan, teknologi Thorcon ini belum pernah diuji di wilayah maritim seperti Bangka Belitung.



















