Eksistensi Guru Ngaji Kampung Terhadap Misi Pendidikan di Indonesia

guru ngaji di kampung (ist)

OPINI, FAKTABERITA – Pendidikan merupakan bagian paling penting bagi khidupan kita yang harus dapat dirasakan oleh semua orang, prioritas pentingya pendidikan bagi bangsa juga di sampaikan secara lugas dalam pembukaan UUD-45 pada alinea ke empat yang mengamanatkan para penyelenggara negara akan pentingnya mengusahakan cara terbaik dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, penekanan ini tentu bedasarkan manfaat dan fungsi pendidikan iu sendiri yang mampu menjadikan anak bangsa melihat dunia dengan luas,bijak yang menjadikan bangsa yang mandiri dan bermartabat.

Realisasi pendidikan tidak akan terjadi tanpa berdirinya pionir dari ilmu dan pendidikan yakni hadirnya tenaga pendidik atau guru, guru menjadi aspek penting yang berpengaruh terhadap kondisi pendidikan, perlu di tekankan kembali bahwa besaran manfaat pentingnya fungsi seorang guru tidak dapat hanya di lihat dari validitas administratif atau jabatan yang dimiliki seorang guru, guru formal dan non formal menjalankan tujuan luhur yang sama yakni mencerdaskan khidupan atau diksi diksi serupa.

Bacaan Lainnya

Diantara bukti eksistensi peranan seorang guru yang tetap bertahan dari waktu ke waktu adalah keberadaan guru ngaji di kampung kampung, sebagai bangsa yang memegang nilai religius terkhususnya di negara mayoritas islam, baca tulis Al-quran menjadi kewajiban dan kebutuhan penting dalam beragama, kemampuan membaca al-quran menjadi salah satu kunci memahami pedoman berkhidupan umat islam dan memahami dan mempelajari banyak ilmu pengetahuan dalam sudut pandang islam lewat literatur bahasa arab,tak mengherankan jika keberadaan guru ngaji yang memegang peranan yang cukup mendasar dalam medidik generasi penerus.

Guru ngaji di masyarakat sebagian ada yang juga ikut mengajarkan baca,tulis dan menghitung bagi anak anak usia dini, seperti salah satu guru ngaji yang ada di Desa Nibung, kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah yakni uztadzah Maryatul Kiptiah, beliau berusia 24 tahun yang melanjutkan peran ibunya sebagai guru ngaji, peroses pembelajaran di lakukan di rumah kediaman pribadi, total murid yang belajar sampai tulisan ini dibuat berjumlah 28 orang, dari usia PAUD sampai kelas 3 SD, hal yang cukup menarik bagi penulis terkait temuan masih terdapatnya regenerasi Guru ngaji di tengah masyarakat,

Kemudian pada masa pembelajaran Daring Ustadzah Maryatul Kiptiah turut membantu membimbing anak muridnya untuk menyelesaikan tugas tugas pembelajaran daring, hal ini menjadi sangat membantu untuk para orang tua yang kesulitan secara pemahaman dan waktu untuk membimbing anaknya menyelesaikan tugas pembelajaran di massa Daring yang umumnya lebih banyak dari masa normal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *