FOTO: Asal Usul ‘Kampung Katak’ Kota Pangkalpinang

  • Whatsapp
Jalan 'Kampung Katak'. (Foto:Januar)

PANGKALPINANG, FABERTA — Mungkin sebagian besar warga Pangkalpinang menyebut Jalan Jenderal Sudirman dari Alun-Alun Taman Merdeka hingga simpang 4 Ramayana dengan sebutan Kampung Katak. Selain karena memang akses utama atau jalan protokol Kota Pangkalpinang, kawasan tersebut juga terkenal dengan tempat jajanan oleh-oleh khas Bangka.

Tetapi tahukan anda asal usul nama Kampung Katak? Dan kenapa sampai saat ini warga masih saja menyebut jalan tersebut dengan sebutan kampung katak?

Pengaruh perlawanan terhadap Belanda yang dipimpin oleh Depati Amir (1848-1851) sangat besar bagi perkembangan Pulau Bangka dalam membentuk jalan-jalan baru, desa-desa dan permukiman penduduk. Pola ini merubah pola pemukiman tradisional masyarakat Pangkalpinang khususnya dalam kelompok dengan konsep bubung dan arah mata angin (permukiman masyarakat yang terdiri atas 10-40 bubung rumah atau pondok ume).

Catatan sejarah menyatakan pada tahun 1851 tercatat pembentukan kampung sebanyak ±232 kampung dan setiap kampung berkisar 10-40 bubung. Salah satu contoh bentuk perkampungan yang masih bertahan dengan konsep kolonial-traditional yakni Kampung Katak, hal ini bisa dilihat dengan adanya bangunan rumah tua Kapiten Lay atau sekarang sering disebut Latarase.

DPMP Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Datuk Akhmad Elvian mengatakan, jalan Jenderal Sudirman itu panjangnya mulai dari simpang depan Bank mandiri di Selatan kota sampai ke perbatasan kota Pangkalpinang di Selindung. Dari utara kota melewati beberapa kampung seperti Kampung Besi, Kampung Bintang, Kampung Cina, Kampung Katak, Kampung Jawa, Kampung opas, Kampung Lembawai, Kampung Gabek, Kampung Selindung.

Kata Datuk Akhmad Elvian, Khusus untuk Kampung Katak yang terletak di sisi utara Sungai Rangkui, dan sisi utaranya berbatasan dengan Kampung Jawa dan Kampung Opas. Kenapa disebut Kampung Katak karena kawasan ini awalnya merupakan rawa-rawa berair tempat habitatnya katak.

“Kenapa disebut Kampung katak karena kawasan ini awalnya merupakan rawa-rawa berair tempat habitatnya katak. Berdasarkan catatan dari Dr. Franz Epp, seorang Jerman yang pernah berkunjung ke Pangkalpinang pada Tahun 1936 dalam bukunya Schilderungen aus hollandisch-Ostindien, dikatakannya bahwa Pusat kota Pangkalpinang kaya dengan air, maksudnya daerahnya berawa-rawa,” ungkap Datuk Akhmad Elvian.

 

Lanjut Datuk, karena kawasan berair berupa rawa-rawa, membuat pusat kota menjadi sehat hanya bila musim kemarau tiba, sehingga pada daerah rawa tersebut dibangunlah kampung sebagai saranan pemukiman penduduk.

“Cikal bakal dibangunnya pemukiman penduduk bisa kita lihat sekarang dengan sebutan Kampung Katak, hal ini bisa dilihat dengan terdapatnya beberapa peninggalan masa lalu dikawasan tersebut yakni rumah kapiten Lay Nam Sen (pertengahan abad 19) dan sebuah masjid di sisi Barat Jalan Raya,” terang Datuk Akhmad Elvian. (Faisal)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *