FOTO: Benteng Toboali, Saksi Sejarah Dua Negeri Penjajah di Junjung Besaoh

  • Whatsapp
Benteng Toboali. (Foto: Januar/Faberta)

BANGKA SELATAN, FABERTA — Bangunan tua yang terletak di pusat Kota Toboali, Kelurahan Tanjung Ketapang, Bangka Selatan, ini merupakan bangunan pertahanan yang dibuat oleh Belanda pada tahun 1825. Semakin kita jauh melangkah mengelilingi seputaran benteng, semakin terlihat kepingan-kepingan masa lampaunya.

Bacaan Lainnya

Antara satu bangunan dengan bangunan lainnya mempunyai konteks yang baik secara fungsi maupun secara sistem. Berumur ratusan tahun, bangunan ini sudah banyak ditumbuhi pohon besar yang akarnya melilit dinding-dinding benteng.

Diketahui, bangunan ini sebelumnya pernah dikuasai oleh Jepang tahun 1942–1945, kemudian pada masa kemerdekaan tahun 1980 dipergunakan untuk Kantor Kepolisian Distrik Toboali. Di dalam benteng, tepatnya bagian kiri, kita akan melihat tujuh ruangan yang berbentuk kamar-kamar kecil.

Menurut cerita masyarakat, dahulunya kamar-kamar tersebut digunakan sebagai gudang, barak prajurit, ruang administrasi keuangan, penjagaan, dapur, dan tempat untuk menyimpan makanan inspektur benteng juga para prajurit-prajurit Belanda.

Tepat di bagian tengah benteng, terdapat meja dan kursi-kursi yang terbuat dari bahan batu yang konon dulunya dijadikan sebagai tempat berkumpul prajurit serta bertemu dan menyantap makanan.

Bangunan yang kental akan sejarah ini membuat Benteng Toboali menjadi Spot terbaik untuk berswafoto. Ditambah dengan akar pohon beringin yang secara alami menempel dan tumbuh di dinding bangunan benteng menambah kesan heritage bagi para pengunjung. di Benteng Toboali juga terdapat bangku dibawah pohon beringin untuk bersantai sembari menikmati secara langsung suasana yang menghadap ke laut.

Untuk berkunjung ke wisata sejarah ini, anda tidak dikenakan biaya alias gratis. Tempat ini terletak sekitar 127 km dari Kota Pangkalpinang. Untuk menuju benteng ini, bisa ditempuh dengan perjalanan roda empat maupun roda dua selama 2 jam perjalanan dari Pangkalpinang.

Sumber : TIC Basel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *