FOTO: Pasrah! Jeritan Pedagang Pasar Kala Dikurung Jeruji PPKM

  • Whatsapp
Salah seorang pedagang baju di Pasar Atrium Kota Pangkalpinang tengah mersapihkan dagangannya, Senin (9/8/2021). Foto: Rais

PANGKALPINANG, FABERTA — Sesuai Inmendagri Nomor 29 Tahun 2021, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diterapkan di Provinsi Bangka Belitung akan berakhir hari ini, Senin 9 Agustus 2021. Namun, Presiden Joko Widodo belum memutuskan apakah aturan tersebut diperpanjang atau disetop.

Bacaan Lainnya

Kendati belum diputuskan, para pedagang sangat mengharapkan PPKM disetop. Alasannya karena aturan tersebut melumpuhkan sumber mata pencaharian mereka.

Yantri (33 tahun), salah satu pedagang baju di kios Pasar Atrium Pangkalpinang mengharapkan PPKM disetop. Pasalnya salah satu sumber utama pendapatan para pedagang pasar adalah pengunjung luar daerah. Kini, pasar tersebut hanya ramai lalu lalang kendaraan yang melintas.

Lanjut ia menjelaskan, sebelum PPKM omzet tokonya masih tembus kisaran satu hingga tiga juta. Semenjak PPKM, omzet dagangannya paling besar 700 hingga 800 ribu. “Sekarang nyari sejuta aja susah, paling besar perhari 700-800 ribu,” katanya kepada Faktaberita.co.id, Senin (9/8/2021).

Menurutnya, pasar merupakan sektor yang sangat krusial karena menjadi pusat perekonomian masyarakat. “Kalau begini (PPKM_red) kan ekonomi jadi lumpuh,” katanya.

Ia juga ikut mengeluhkan, di tengah aturan PPKM, dirinya selaku pedagang sama sekali tidak tersentuh oleh bantuan pemerintah. Bahkan, ia mengeluhkan biaya lapak pertahun semakin meningkat dibanding tahun sebelumnya.

“Bantuan dari pemerintah juga ga ada, dari dinas pasar harusnya ada bantuan, ini ga ada apapun, Disperindag juga ga ada, malahan ditaik biaya retribusi bangunan tiap tahun, kemaren tuh kan dari pemerintahan pasar tuh 900 ratus tahun 2020 sekarang satu juta dua ratus, kami tekejut masa corona malah naik,” ungkapnya.

Tak hanya Yantri, Ria (38 tahun) salah satu pedagang es di Pasar Atrium Pangkalpinang juga ikut mengeluh. Aturan PPKM menurut hanya membuat pasar sepi pengunjung.

“Kalau pacak disetop PPKM, dibuka lagi, karena pasar sepi, pedagang-pedagang banyak yang ngeluh, orang kampung dak pacak kulur kilir (mondar mandir_red) ke sini,” katanya.

Soal omzet pun Ria mengeluh. Sebelum PPKM ia bisa meraup dua hingga tiga ratus dalam sehari. “Sehari nyampe lah 200 – 250 ratus, sekarang jauh, seratus bai dak nyampai, biasa sabtu minggu ramai, sekarang dakde lagi, macam hari-hari biasa,” ujarnya.

Senada, Bunga, pedagang baju yang menjajakkan dagangannya dipinggir jalan Pasar Atrium Pangkalpinang turut menguatkan apa yang dikatakan Yantri dan Ria sebelumnya.

 

“Berharap sih jangan berlanjut, gak PPKM aja udah sepi apalagi tambah PPKM, tapi tergantung keadaanlah ya, kalau memang keadaannya harus PPKM. Sebelum PPKM (omzet_red) lumayan lah, semenjak PPKM turun 50 persen ade lah,” pungkasnya setengah pasrah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *