Oleh: Heri Suheri, C.IJ., C.PW., CA-HNR., C.FLS.
FAKTA BERITA , OPINI — Sebelumnya rencana pengembangan hilirisasi Logam Tanah Jarang atau LTJ di Bangka
Belitung kembali menjadi perhatian. Lewat Pilot Plant LTJ yang berada di Tanjung Ular, Bangka
Barat, PT Timah bersama MIND ID selaku holding BUMN pertambangan mulai mengolah
monasit, mineral pendamping hasil penambangan timah, menjadi produk yang memiliki nilai
tambah lebih.
Upaya ini selaras dengan arah kebijakan hilirisasi dan industrialisasi nasional
yang saat ini menjadi salah satu fokus pemerintah.
Adapun informasi baru mengutip berita dari Bloomberg Technoz, PT Timah (Persero) Tbk.
(TINS) bersama PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) berencana bekerja sama dalam
pengembangan proyek hilirisasi logam tanah jarang atau rare earth elements (REE).
Direktur
Utama TINS Restu Widiyantoro menyatakan secara umum terdapat dua kerja sama yang
diteken perseroan dengan Perminas, salah satunya kerjasama operasional dalam proses
hilirisasi LTJ. PT Timah mendapat tugas sebagai supplier untuk bahan-bahan REE atau SHP
[sisa hasil produksi]-nya. Sisa hasil produksi dari timah itu menjadi bahan utama untuk
Perminas yang nanti selanjutnya Perminas akan memproses menjadi produk-produk
ikutannya,” kata Restu dalam RDP di Komisi XII, dikutip Selasa (14/4/2026).
Pembahasan mengenai hilirisasi ini tentunya harus sudah memperhatikan dua sikap yang
berjalan beriringan yaitu optimisme dan kesiapsiagaan. Optimisme muncul karena daerah yang
selama ini dikenal sebagai penghasil timah melihat adanya kesempatan untuk mengembangkan
potensi ekonomi ke tahap yang lebih maju. Sementara kesiapsiagaan tumbuh dari pengalaman
bertahun-tahun dengan sektor pertambangan, yang membuat masyarakat cenderung lebih teliti
dalam menyikapi setiap rencana agar menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan di
Bangka Belitung.
Dari sisi ekonomi, langkah hilirisasi LTJ cukup layak mendapat sambutan positif. Meski istilah
logam tanah jarang atau rare earth element mungkin belum akrab di telinga sebagian besar
masyarakat, perannya dalam berbagai industri terbilang penting. Unsur ini digunakan sebagai
bahan utama pembuatan magnet permanen, baterai kendaraan hybrid, perangkat elektronik,
hingga katalis dalam proses industri. Selama ini, Indonesia belum mengolah bahan mentah
tersebut menjadi produk hilirisasi, sehingga nilai ekonomi yang paling besar justru terbentuk di
negara yang mengolahnya lebih lanjut.
Kehadiran pilot plant di Bangka Belitung tersebut diatas, menjadi langkah nyata untuk
mengubah pola yang selama ini berjalan. Monasit, dan mineral ikutan lainnya yang
sebelumnya dianggap sebagai sisa dari kegiatan tambang timah, untuk diolah kembali karena
memiliki nilai daya guna. Apabila proses ini berjalan sesuai harapan, manfaatnya tidak hanya
dirasakan dalam bentuk peningkatan penerimaan negara, daerah, tetapi juga membuka ruang kerja baru bagi masyarakat setempat, mulai dari posisi teknis, bidang penelitian, hingga sektor
usaha penunjang lainnya.
Ada beberapa hal penting yang sebaiknya menjadi perhatian agar proses hilirisasi LTJ dapat
berjalan secara bijak dan berkelanjutan. Salah satu yang perlu dikedepankan adalah aspek
lingkungan. LTJ memiliki karakteristik berbeda dari mineral pada umumnya. Contohnya monasit
mengandung unsur thorium yang bersifat radioaktif, sehingga proses pemisahan dan
pemurniannya memerlukan dukungan teknologi yang sesuai serta penerapan standar
pengelolaan limbah yang terukur dan tingkat kehati-hatian yang tinggi.



















