Industri Furnitur Kian Dilirik, Pemerintah Akan Fasilitai Kemudahan Iklim Berusaha

  • Whatsapp
Ilustrasi/Foto: Ist

NASIONAL, FABERTA — Kemeterian Perindustrian (Kemenperin) bakal memberikan insentif kemudahan mendapatkan bahan baku dan tenaga kerja pada industri furnitur nasional. Hal ini dilakukan untuk menjaga investasi industri tersebut.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif menjelaskan, industri furnitur diperkirakan masih akan terus dilirik investor. Sebab, nilai ekspor di tahun 2020 mengalami peningkatan yang mencapai USD1,91 miliar, meningkat 7,6% persen dari tahun 2019 yaitu senilai USD1.77 miliar.

Bacaan Lainnya

“Untuk terus menjaga investasi pada sektor furnitur, pemerintah memberikan fasilitas kemudahan iklim berusaha, terutama antisipasi penyediaan faktor-faktor produksi utama yaitu bahan baku, modal, dan tenaga kerja.

“Selanjutnya, fasilitas kemudahan iklim berusaha terutama antisipasi penyediaan faktor-faktor produksi utama yaitu bahan baku, modal, dan tenaga kerja,” kata Febri melalui keterangannya, Selasa (14/9/2021).

Menurutnya, pemberian insentif juga bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah yang disumbangkan oleh industri manfaktur. Tujuannya agar dapat bersaing di tingkat global.

Dari pemamaparan Febri, besarnya nilai ekspor yang dihasilkan membuat Indonesia masuk jajaran eksportir produk-produk funitur besar seperti China, Jerman, Polandia, Italia, dan Vietnam. Adapun negara-negara tujuan ekspor terbesar furnitur Indonesia tahun 2020 adalah Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Belgia, dan Jerman.

“Hal ini diharapkan dapat mewujudkan industri yang menghasilkan nilai tambah tinggi, berdaya saing global, dan berwawasan lingkungan,” kata dia.

Tak hanya itu, Febri menjelaskan bahwa pemerintah akan menggenjot industri manufaktur lain. Salah satunya yakni sektor otomotif, di mana Indonesia memiliki target sebagai ekspor hub kendaraan bermotor, baik untuk kendaraan berbasis bahan bakar minyak (internal combustion engine/ICE) maupun kendaraan listrik (electrical vehicle/EV).

Target tersebut dibidik lantaran adanya permintaan EV di dunia diperkirakan terus meningkat. Hal ini mendorong peningkatan kebutuhan baterai bagi kendaraan listrik.

Meningkatnya penggunaan baterai juga mendorong peningkatan bahan baku, sehingga negara yang memiliki sumber bahan baku baterai seperti Indonesia akan memegang peranan sangat penting.

“Saat ini sudah ada peta jalan pengembangan kendaraan listrik yang meliputi rencana pengembangan industri komponen utama EV berupa baterai, motor listrik dan inverter,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *