Kemendagri Buatkan E-KTP untuk Transgender

  • Whatsapp

JAKARTA, FABERTA – Kaum transgender di Indonesia bisa bernafas lega dalam pengurusan dokumen kependudukan seperti KTP elektronik (E-KTP), akta kelahiran, dan Kartu Keluarga (KK). Mereka akan diberikan kemudahan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Kerap dianggap sebelah mata dan sebagai warga marginal, sehingga membuat para transgender merasa minder untuk mengurus dokumen kependudukan, menjadi alasan Kemendagri mengambil langkah tersebut. Padahal, setiap warga negara wajib memiliki identitas diri secara sah.

Bacaan Lainnya

“Dukcapil seluruh Indonesia akan membantu teman-teman transgender untuk mendapatkan dokumen kependudukan,” ujar Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh, dikutip dari liputan6.com, Sabtu (24/4/2021).

Nantinya, setiap kantor Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) di daerah, kata Zudan, akan melakukan verifikasi data kembali terhadap transgender. “Bagi yang sudah merekam data caranya harus diverifikasi dengan nama asli dulu,” katanya.

“Pendataannya tidak harus semua ke Jakarta. Di daerah masing-masing juga bisa dibantu oleh Dinas Dukcapil setempat. Termasuk untuk dibuatkan KTP-el sesuai dengan alamat asalnya,” katanya lagi.

Sementara, bagi transgender yang sudah terdata dan memiliki KTP lama, akan dilakukan verifikasi data. Jika datanya cocok, Dukcapil akan mencetakkan KTP-el terbaru untuk mereka. “Yang penting kita koordinasi agar diberikan kemudahan, data 112 orang sudah terkumpul bisa di WA ke saya,” katanya.

Kaum transgender sejauh ini sering mendapatkan kesulitan setiap kali mengurus dokumen kependudukan maupun proses administrasi layanan lainnya, seperti BPJS Kesehatan. “Mungkin karena miskin dan minder, malu, atau hambatan lainnya,” kata Ketua Dewan Pengurus Perkumpulan Suara Kita, Hartoyo.

Akibatnya, kaum transgender sulit untuk mendapatkan fasilitas yang telah disediakan oleh negara. “Akibatnya mereka sulit mengurus pelayanan publik lain, seperti BPJS-Kes, atau sulit mendapat akses bansos. Padahal banyak di antaranya yang hidup miskin sebagai pengamen, dan profesi lainnya,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *