Kondisi Stunting di Babel: Lebih dari 30.000 Keluarga Terdampak, Langkah Cepat Diperlukan

FAKTA BERITA, PANGKAL PINANG – Masalah stunting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) masih menjadi sorotan utama. Data terbaru yang dirilis pada Februari 2024 mengungkapkan keadaan yang cukup mengkhawatirkan. Kabupaten Bangka mencatat 8.429 keluarga berisiko stunting, disusul oleh Kabupaten Belitung dengan 4.877 keluarga, dan Kabupaten Bangka Selatan dengan 7.862 keluarga yang berisiko mengalami stunting.

 

Sementara itu, Kabupaten Bangka Tengah dan Bangka Barat juga mencatatkan angka yang tinggi dengan masing-masing 6.615 dan 6.605 keluarga berisiko stunting. Kabupaten Belitung Timur dan Pangkalpinang tidak ketinggalan dengan angka 2.389 dan 4.478 keluarga yang berada dalam kategori berisiko.

 

“Sinkronisasi data stunting berdasarkan NIK anak menjadi salah satu kendala saat ini yang perlu terus ditindaklanjuti agar penanganan stunting ini tepat sasaran.” Kata¬† Pj Ketua TP PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Safriati Safrizal. Saat rapat lanjutan percepatan penurunan stunting tahun 2024 di Ruang Romodong Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (18/4/2024).

 

Lebih lanjut, data juga mencatatkan bahwa ada 394 balita yang mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) akibat kondisi stunting. Rinciannya adalah 38 anak di Kabupaten Bangka, 152 anak di Kabupaten Belitung, 73 anak di Kabupaten Bangka Barat, 1 anak di Kabupaten Bangka Tengah, 2 anak di Kabupaten Bangka Selatan, 103 anak di Kabupaten Belitung Timur, dan 25 anak di Pangkalpinang.

 

Dalam konteks ini, Pj Ketua TP PKK Babel menekankan pentingnya upaya pencegahan dan intervensi yang tepat sasaran.

 

“Intervensi yang kita lakukan ini diharapkan dapat menurunkan prevalensi stunting secara efektif, konvergen, serta terintegrasi dengan melibatkan lintas sektoral Pemprov. Kep. Babel,” ujarnya.

 

Data ini menggarisbawahi urgensi kolaborasi antar lembaga dan pemerintah daerah untuk mengatasi masalah stunting yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Babel.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *