Oleh : Ahfanza Nugraha El Pambajeng, Ketua Komunitas Sayap Cinta Cerebral Palsy Pangkalpinang
FAKTA BERITA, OPINI – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) selama ini identik dengan kekayaan timahnya. Namun, di balik kontribusi ekonomi itu, pertambangan masif—baik legal maupun ilegal—meninggalkan warisan kerusakan lingkungan yang masif: ribuan kolong bekas tambang belum direklamasi, pencemaran logam berat di air dan tanah, serta degradasi ekosistem pesisir. Menurut data Walhi Babel hingga 2025, aktivitas ini telah merusak ratusan ribu hektare lahan dan memicu bencana seperti banjir serta konflik satwa-manusia. Sayangnya, dalam diskursus krisis ekologi ini, satu kelompok rentan kerap terlupakan: anak-anak penyandang disabilitas, khususnya mereka dengan Cerebral Palsy (CP).
Sebagai wilayah kepulauan yang ekosistemnya rapuh, Babel menghadapi ancaman ganda. Kolong tambang tidak hanya mengubah bentang alam, tapi juga menjadi genangan air yang memicu banjir, longsor, dan sarang penyakit seperti malaria. Pencemaran udara dari debu tambang serta logam berat seperti timbal (Pb) di air dan tanah berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Bagi anak-anak pada umumnya, ini sudah memprihatinkan. Namun bagi anak dengan disabilitas—terutama CP yang sering memiliki kerentanan pernapasan, keterbatasan mobilitas, dan kebutuhan lingkungan stabil—dampaknya berlipat.
Anak dengan CP rentan terhadap infeksi saluran pernapasan akibat debu dan polusi udara dari aktivitas tambang. Pencemaran air bersih memaksa keluarga mengeluarkan biaya ekstra atau menggunakan air berkualitas buruk, yang memperburuk kondisi kesehatan mereka. Studi menunjukkan paparan logam berat seperti Pb dari limbah tambang dapat mengganggu perkembangan saraf, menurunkan IQ, dan memperberat gejala neurologis pada anak—an cam yang sudah tinggi risikonya pada kelompok disabilitas.
Kerusakan lingkungan juga membatasi akses ruang publik aman. Kolong tambang yang dibiarkan tanpa pengaman sering menjadi jebakan maut, terutama bagi anak dengan mobilitas terbatas. Ruang bermain dan interaksi sosial yang seharusnya mendukung tumbuh kembang justru berisiko tinggi, mempersempit kesempatan mereka berkembang optimal.



















