BANGKA SELATAN, FAKTABERITA —
• Muasal TI Tungau di Bangka Selatan.
Tambang Inkonvensional (TI) Tungau adalah tambang pasir timah skala mini yang sangat familiar di masyarakat penambang, khususnya di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Ya, tungau merupakan nama serangga kecil penghisap darah. Tungau yang dilekatkan pada istilah alat tambang lantaran ukurannya yang kecil atau mini untuk menambang pasir timah yang dilakukan secara manual.
Junaidi Hasta, salah satu tokoh masyarakat yang mewakili masyarakat penambang TI Tungau di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan mengatakan, sebutan TI Tungau bermula dari tahun 2017 lalu.
Bukan hanya beroperasi di Laut yang kita ketahui, namun awalnya TI Tungau ini beroperasi di darat, sungai ataupun di danau eks tambang.

• Eksis di Tahun 2020, Puncak Kenaikan Ekonomi di Toboali, Bangka Selatan.
Perairan Laut Nelayan, Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan jadi sasaran empuk dalam mengais pasir timah, terlebih di awal tahun 2020 terpantau ratusan TI Tungau beraktivitas di laut Nelayan dan sekitarnya.

Rusli (46) seorang penambang TI Tungau mengatakan di Januari tahun 2020 silam, penambang TI Tungau di Perairan Nelayan saat itu ada yang mendapatkan 80 kilogram hingga 100an kilogram pasir timah.
“Saat itu hasil nambang bisa sampai segitu, Pak,” ujar Rusli kepada Faktaberita.co.id, 29 Desember 2021.

Kendati demikian, kondisi ekonomi secara nasional saat itu terpuruk imbas Pandemi Covid-19, namun disisi lain dampak dari penambangan waktu itu mampu mendongkrak perekonomian masyarakat Bangka Selatan khususnya.
Seorang pedagang bernama Cik Saimah, salah warga nelayan yang memanfaatkan peluang yang menjadi magnet pundi rupiah dari dampak pertambangan TI Tungau di situ.
“Waktu TI Tungau ramai di sini, saya jualan makanan, minuman dan kebutuhan penambang. Kalau dulu, sehari indomie yang saya jual bisa laku 4 dus, belum rokok dan minuman pesanan penambang,” kata Cik Saimah kepada Faktaberita.co.id, pada 29 Desember 2021 lalu.
Tak hanya Cik Saimah, rata-rata pemilik toko kelontongan maupun toko penyedia alat-alat tambang di Toboali menambah stok dagangannya, lantaran permintaan semakin hari semakin membludak.

• Keberadaannya Dianggap Ilegal, Namun Mampu Membuat Dapur Masyarakat Kecil Berasap
Tim Faktaberita.co.id saat observasi di perairan laut Nelayan menemui seorang penambang TI Tungau saat sedang mencuci pasir timah yang siap untuk dijual ke tengkulak timah yang menunggu di bibir pantai.
Rian (38) warga Toboali mengatakan sehari pendapatannya mencapai 3 kilogram hingga 5 kilogram. Hasil itu diraihnya mulai dari pagi hingga sore hari.
“Enggak menentu, kadang dapat 3 kilogram, kemarin-kemarin dapat 5 kilogram. Karena timah di sini sudah sedikit,” sebutnya.

Namun pendapatan tersebut, Lanjutnya, sudah mampu membuat dapur berasap. Lantaran harga timah saat ini dipatok dengan harga Rp 190.000 hingga Rp 200.000.



















