Menguak Penyebab Anak Putus Sekolah di Bangka Belitung

Ilustrasi/Foto: Rais Abdillah

OPINI, FAKTABERITA — Pendidikan adalah aspek paling penting dalam kehidupan Berbangsa dan bernegara. Pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam proses pembentukan nasional oleh karena itu peningkatan mutu pendidikan di sekolah merupakan strategi dalam meningkatkan sumber daya manusia.

Menurut Bruner dalam Dyna Indriana menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membebaskan masyarakat dan membantu para siswa dalam mengembangkan potensi mereka secara penuh. Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dan dominan dalam menentukan maju mundurnya suatu bangsa.

Bacaan Lainnya

Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk membentuk manusia Seutuhnya dalam artian mengembangkan potensi potensi individu secara berimbang optimal dan berintegrasi.

Dalam pendidikan terdapat sebuah proses belajar. Belajar adalah usaha untuk mencari dan menemukan makna belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu yakni mengalami.

Hasil pembelajaran bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan proses belajar mengajar merupakan interaksi edukasi yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam suatu situasi tertentu artinya bahwa dalam proses pembicaraan terjadi interaksi belajar dan mengajar dalam suatu kondisi tertentu yang melibatkan beberapa unsur ekstrinsik maupun instrinsik yang melekat pada diri siswa dan guru termasuk lingkungan.

Pentingnya pendidikan dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas merupakan Penunjang keberhasilan pembangunan suatu daerah baik dari pendidikan formal, nonformal dan Informal.

Keadilan dan Kesetaraan bisa terwujud melalui pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan secara meluruh supaya pendidikan dapat meningkatkan Peradaban negeri ini. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak untuk meningkatkan Taraf hidup yang lebih baik.

Peran orang tua masyarakat dan pemerintah sangat perlu untuk terwujudnya pendidikan anak sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Di dunia pendidikan terdapat beberapa masalah salah satunya Adalah persoalan anak putus sekolah. Anak putus sekolah adalah proses pemberhentian siswa secara terpaksa dari suatu pendidikan tempat anak belajar. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terputusnya sekolah pada seorang anak.

Pada tahun 2012 sampai tahun 2014 angka anak putus sekolah mengalami penurunan, namun pada tahun 2015 angka putus sekolah khususnya pada jenjang SMA atau sederajat mengalami peningkatan yang sangat signifikan sampai tahun 2021.

Berdasarkan survei nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik di tahun 2019 angka anak putus sekolah di provinsi Kepulauan Bangka Belitung cukup tinggi. Apalagi pada saat Pandemi Covid 2019 memperparah peningkatan anak putus sekolah.

Berdasarkan data dari kementerian pendidikan dan kebudayaan mencatat 1.571.000 siswa di Indonesia yang putus sekolah dengan kategori cukup tinggi dengan jenjang SD sebanyak 59,44, SMP berjumlah 38,467, SMA 26,864, dan jenjang SMK berjumlah 32,395.

Untuk provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri jumlah penduduk usia sekolah pada tahun 2019 sebanyak 151.993 siswa dan angka putus sekolah sebanyak 405 siswa. Usia 13 sampai 15 tahun sebanyak 49951 siswa, dengan angka putus sekolah sebanyak 152 siswa. Adapun usia 16 sampai 16 tahun 2019 sebanyak 54726 siswa dengan angka putus sekolah 135 orang siswa. Dapat disimpulkan anak putus sekolah didominasi oleh sekolah menengah atas.

Banyak sekali penyebab putusnya sekolah pada anak. Seperti masalah ekonomi, kurangnya minat anak untuk sekolah, faktor lingkungan, faktor komunikasi internal keluarga, faktor sosial dan faktor kesehatan. Faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah sebab kebanyakan siswa berhenti sekolah biasanya karena tidak memiliki biaya sekolah atau harus mencari uang.

Di Kepulauan Bangka Belitung sendiri salah satu penyebab dari permasalahan pendidikan tersebut yaitu karena anak anak sekolah lebih tertarik untuk ikut orang tuanya atau lingkungannya untuk bekerja di bidang pertambangan atau yang dikenal TI.

Padahal pemerintah mengeluarkan edaran atau peraturan yang isinya adalah larangan semua pelaku tambang melibatkan anak usia sekolah dalam kegiatan pertambangan dan meminta agar semua lapisan masyarakat dan pemerintah untuk melakukan pengawasan dan pembinaan. Hal ini guna dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan angka putus sekolah dan untuk meningkatkan pendidikan yang bermutu.

Pertambangan timah saat ini sangat meningkat harganya, inilah alasan para anak melakukan pekerjaan ini dan meninggalkan sekolahnya. Karena mereka berpikir kesempatan untuk mencari dan mendapatkan uang sangat besar pada sektor ini.

Harapannya permasalahan putus sekolah khusus nya di Kepulauan Bangka Belitung bisa terselesaikan, atau setidaknya menurun dengan pembuatan program-program agar anak-anak sendiri berminat untuk sekolah dibandingkan mencari uang.

***

Penulis: Husna Nadia, Mahasiswa Semester 6, Jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Bangka Belitung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.