Miris! Mobil PCR di Babar Hanya Terparkir Saat Kasus Covid-19 Meledak

  • Whatsapp
Kondisi Mobil Combat PCR milik Pemkab Bangka Barat (paling kiri) yang hanya terparkir di belakang Unit Laboratorium RSUD Sejiran Setason, Muntok. Foto: ist

MUNTOK, FABERTA — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bangka Barat melalui Komisi I menyoroti kondisi mobil combat  Polymerase Chain Reaction (PCR) milik Pemda Bangka Barat yang justru hanya terparkir di saat kasus Covid-19 sedang tinggi dan memprihatinkan di daerah itu.

Kepada Faktaberita.co.id, Ketua Komisi I Naim menjelaskan, pihaknya dalam waktu dekat akan memanggil OPD terkait untuk mempertanyakan alasan di balik tidak beroperasinya mobil yang seharusnya menjadi “armada perang” guna semakin mempercepat testing Covid-19 di Bumi Sejiran Setason.

Bacaan Lainnya

“Soal mobil combat PCR itu nanti kita koordinasikan dengan OPD terkait dalam hal ini Dinkes melalui RSUD untuk dibicarakan. Kita mau tahu kenapa hanya diparkir di saat kondisi covid-19 di daerah kita sedemikian memprihatinkan. Kalau memang selama ini tidak dioperasikan karena reagen, ya kita mau tahu berapa biaya operasional itu,” tegas politikus PDI Perjuangan itu di Muntok.

Naim mengaku prihatin mobil PCR yang seharusnya menjadi alternatif solusi di tengah persoalan waktu tunggu sampel swab yang memakan waktu berhari-hari karena antrean panjang, tapi justru fasilitas pendukung (mobil PCR-red) untuk memangkas waktu tunggu itu terkesan dibiarkan mubasir.

“Maka kita Komisi I dorong supaya barang yang sudah ada ini dimanfaatkan sehingga pengujian menjadi lebih cepat dan upaya 3T meliputi tracing, testing, dan treatment menjadi lebih optimal. Jangan malah terkesan mubasir seperti selama ini. Terlepas dari mahal atau tidaknya, nanti kita bicarakan termasuk juga dengan Satgas juga mungkin karena satu paket. Kita akan jadwalkan dalam RDP pada bulan Agustus nanti,” tukas Naim.

Naim menyebut sebelumnya pihaknya memang telah melakukan inspeksi mendadak (Sidak) mempertanyakan alasan tidak beroperasinya mobil PCR yang telah diresmikan Bupati Bangka Barat sebelumnya, Markus, pada 7 Desember 2020 lalu.

“Kita tanyakan soal mobil PCR, kata mereka biaya reagen mahal. Tapi kan yang lebih tahu mereka maka kita akan panggil untuk carikan solusi. Kita di Komisi I jangan sampai mobil PCR ini mubasir karena kalau kita bisa manfaatkan untuk penanganan covid-19 minimal untuk mempersingkat waktu tunggu swab PCR kenapa tidak, kan begitu,” ujar Naim.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan RSUD Sejiran Setason dr. Ratnosoppi dalam pernyataannya kepada wartawan menyebutkan, alasan di balik pemarkiran mobil yang dibeli menggunakan Dana Insentif Daerah (DID) dari Pemerintah Pusat sebagai apresiasi terhadap Kabupaten Bangka Barat yang mampu menjaga zona hijau di jaman Bupati Markus dikarenakan reagen yang digunakan di mobil PCR itu habis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *