Pangkalpinang Paling Tinggi, Ini Peta Pengangguran di Babel 2025

Ilustrasi pengangguran (Faberta).

FAKTA BERITA, PANGKALPINANG – Angka pengangguran di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pada 2025 tercatat masih berada pada level yang perlu menjadi perhatian, meski menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Babel berada di angka 4,45 persen atau setara sekitar 36.500 orang, Agustus 2025.

Secara wilayah, Kota Pangkalpinang menjadi daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Babel, yakni 5,73 persen. Disusul Kabupaten Bangka sebesar 4,75 persen, Bangka Barat 4,49 persen, Bangka Selatan 4,48 persen, Bangka Tengah 4,21 persen, Belitung 3,65 persen, dan Belitung Timur menjadi daerah dengan TPT terendah sebesar 3,05 persen.

Dari sisi tingkat pendidikan, pengangguran di Babel masih didominasi oleh lulusan pendidikan menengah dan tinggi. Lulusan SMA dan SMK tercatat sebagai kelompok terbanyak yang belum terserap dunia kerja, disusul lulusan sarjana (S1). Kondisi ini mengindikasikan masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri di daerah.

Kabid Pengawasan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial (HI dan Jamsos) Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Agus Afandi, mengatakan bahwa penurunan angka pengangguran pada 2025 tidak terlepas dari mulai pulihnya aktivitas ekonomi daerah pasca tekanan berat pada 2024.

“Kalau kita bandingkan dengan 2024, angka pengangguran memang mengalami penurunan. Tahun 2024 cukup berat karena banyak terjadi pemutusan hubungan kerja, terutama dampak dari kasus tata niaga timah yang memukul sektor-sektor turunan,” ujar Agus Afandi.

Meski demikian, Agus mengakui masih banyak faktor struktural yang menyebabkan angka pengangguran belum bisa ditekan secara signifikan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang belum optimal menjadi salah satu penyebab utama.

“Selain pertumbuhan ekonomi yang relatif melambat, kita juga menghadapi masalah klasik berupa ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan yang belum memiliki keterampilan spesifik yang dibutuhkan pasar kerja,” katanya.

Pos terkait