Perkuat Kendali Harga, Bangka Barat Luncurkan Aplikasi “Sadar Inflasi” Berbasis Data Real-Time

FAKTABERITA, BANGKA BARAT — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menggelar High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Triwulan II Tahun 2026 sebagai langkah memperkuat strategi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Pertemuan yang berlangsung di Mentok tersebut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Bangka Barat Abimanyu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Rommy Tamawiwy, unsur Forkopimda, instansi vertikal, BPS, Bulog, Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan, kepala OPD, para camat, hingga pelaku usaha.

Dalam forum tersebut, Pemkab Bangka Barat sekaligus meluncurkan inovasi digital “Sadar Inflasi” (Sistem Integrasi Data, Analisis, dan Respon Pengendalian Inflasi) sebagai instrumen pemantauan harga kebutuhan pokok secara real-time.

Peluncuran aplikasi ini menjadi salah satu langkah strategis setelah Bangka Barat sempat menghadapi tekanan inflasi yang cukup tinggi. Setelah berhasil menjaga inflasi pada kisaran sasaran nasional pada tahun 2024, angka inflasi Bangka Barat meningkat hingga mencapai 4,02 persen pada akhir 2025 dan sempat menyentuh 5,36 persen pada awal 2026, sehingga masuk dalam jajaran daerah dengan tingkat inflasi tinggi secara nasional.

Melalui sinergi TPID bersama Bank Indonesia, perangkat daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, angka inflasi perlahan berhasil ditekan hingga mencapai 2,75 persen pada Mei 2026 atau kembali berada dalam rentang target nasional.

Sekretaris Daerah Bangka Barat, Abimanyu, mengatakan pengendalian inflasi tidak hanya berfokus pada menurunkan angka statistik, tetapi memastikan stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Menurutnya, pemerintah daerah telah menjalankan delapan dari sembilan langkah strategis pengendalian inflasi yang ditetapkan Kementerian Dalam Negeri, mulai dari pemantauan harga dan stok, operasi pasar murah, kerja sama antar daerah untuk menjaga pasokan pangan, hingga penguatan rapat teknis TPID.

“Program pengendalian inflasi harus tepat sasaran, baik dari sisi waktu pelaksanaan, komoditas yang dibutuhkan masyarakat, maupun lokasi kegiatan, sehingga anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Bangka Belitung, Rommy Tamawiwy, mengapresiasi keberhasilan Bangka Barat menekan inflasi dan mendorong seluruh pihak untuk terus menjaga kolaborasi menghadapi tantangan ekonomi global maupun domestik.

Ia menyampaikan bahwa ekonomi Bangka Belitung menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan mencapai 4,53 persen, didukung potensi sektor non-timah seperti pertanian, perikanan, UMKM, ekonomi syariah, dan pariwisata.

Bank Indonesia juga terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan, penyediaan data yang akurat untuk operasi pasar yang tepat sasaran, serta dukungan terhadap kelancaran distribusi logistik agar harga pangan tetap terjangkau.

Pos terkait