Peta Penyakit Babel 2016–2024: Ini Data 10 Besar Kasus Tebanyak

Ilustrasi Data penyakit Terbanyak di Babel. (Faberta).

FAKTA BERITA, PANGKALPINANG – Selama hampir satu dekade terakhir, pola penyakit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan pergeseran yang cukup signifikan. Data 10 penyakit terbanyak periode 2016–2024 yang dirilis Bidang Pengelola Data dan Informasi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memperlihatkan perubahan dari dominasi penyakit infeksi menuju penyakit tidak menular.
Pada periode awal, khususnya tahun 2016 hingga 2020, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi. Pada 2016, kasus ISPA tercatat lebih dari 101 ribu, kemudian meningkat tajam hingga mencapai puncaknya pada 2018 dengan lebih dari 130 ribu kasus. Tingginya kasus ISPA pada periode ini menunjukkan masih kuatnya faktor lingkungan, kualitas udara, serta perilaku hidup bersih dan sehat yang belum optimal di masyarakat.
Namun memasuki 2021, terjadi pergeseran yang cukup mencolok. Hipertensi mulai menempati posisi teratas sebagai penyakit terbanyak. Pada 2021, kasus hipertensi mencapai lebih dari 125 ribu, menggeser ISPA yang selama bertahun-tahun mendominasi. Tren ini berlanjut hingga 2024, meski secara jumlah terlihat menurun tajam, yang diduga dipengaruhi oleh perubahan sistem pencatatan, metode pelaporan, atau fokus layanan kesehatan.
Dominasi hipertensi mencerminkan meningkatnya beban penyakit tidak menular di Bangka Belitung. Gaya hidup sedentari, pola makan tinggi garam dan lemak, serta rendahnya aktivitas fisik menjadi faktor utama yang mendorong tingginya kasus tekanan darah tinggi. Kondisi ini juga beririsan dengan munculnya penyakit metabolik lain seperti diabetes melitus dan hiperkolesterol yang secara konsisten masuk dalam daftar 10 besar sejak 2018.
Selain hipertensi, gangguan pencernaan seperti gastritis dan dispepsia hampir selalu muncul setiap tahun dengan angka yang cukup tinggi. Ini mengindikasikan masih kuatnya masalah pola makan tidak teratur, stres, serta kebiasaan konsumsi makanan yang berisiko terhadap kesehatan lambung. Pada 2021 hingga 2023, dispepsia bahkan menjadi salah satu penyakit dengan jumlah kasus terbanyak setelah hipertensi dan ISPA.
Penyakit otot dan jaringan pengikat serta myalgia juga menunjukkan tren yang stabil dari tahun ke tahun. Hal ini bisa dikaitkan dengan karakteristik pekerjaan masyarakat Bangka Belitung yang banyak bergerak di sektor informal, pertambangan, perkebunan, dan pekerjaan fisik lainnya yang rentan menyebabkan gangguan muskuloskeletal.
Menariknya, pada 2017 tercatat lonjakan penyakit infeksi seperti pneumonia, DBD, diare, hingga TBC paru yang masuk dalam daftar 10 besar. Fenomena ini menunjukkan bahwa penyakit menular tetap menjadi ancaman serius, terutama pada periode tertentu yang dipengaruhi faktor cuaca, sanitasi, dan kepadatan lingkungan.
Memasuki 2022 hingga 2024, data mulai menunjukkan keragaman nomenklatur penyakit yang lebih spesifik, seperti common cold, nasofaringitis akut, pulpitis, hingga hypertensive heart disease. Hal ini menandakan adanya peningkatan ketelitian dalam diagnosis dan pencatatan medis di fasilitas pelayanan kesehatan.
Secara keseluruhan, data ini menggambarkan tantangan ganda sektor kesehatan di Bangka Belitung. Di satu sisi, penyakit infeksi masih muncul dan tidak sepenuhnya hilang. Di sisi lain, penyakit tidak menular justru semakin menguat dan menjadi beban utama sistem kesehatan daerah. Kondisi ini menuntut strategi kesehatan yang tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui perubahan perilaku, promosi gaya hidup sehat, serta penguatan layanan kesehatan primer.

Pos terkait