FAKTA BERITA, PANGKALPINANG – Polemik antara masyarakat dan PT Thorcon terkait rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Gelasa terus menghangat. Sorotan publik menguat lantaran perusahaan dinilai belum memenuhi persyaratan pembangunan, termasuk belum mengantongi persetujuan dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Pahlevi Syahrun, menegaskan bahwa setiap investasi yang masuk ke Babel pada prinsipnya disambut baik. Namun, ia mengingatkan bahwa izin adalah syarat mutlak sebelum melakukan aktivitas apa pun, baik riset, uji coba, hingga realisasi proyek.
“Legal standing aktivitasnya harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama untuk kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial dan lingkungan. Apalagi jika menggunakan teknologi dengan risiko signifikan,” ujar Pahlevi kepada awak media, Selasa (10/2/2026).
Pahlevi menekankan bahwa pertanyaan mengenai izin bukanlah bentuk penolakan terhadap investasi, melainkan tuntutan administratif yang wajib dipenuhi. Menurutnya, proyek berskala besar seperti PLTN justru harus lebih siap dengan dasar hukum sejak awal agar tidak memunculkan polemik panjang.
“Investasi yang baik harus dimulai dengan tata administrasi yang benar. Kegiatan berdampak luas seperti ini harus siap dengan argumen legalnya agar tidak menimbulkan masalah hukum di kemudian hari,” tegasnya.
Ia juga menyoroti posisi Thorcon sebagai perusahaan yang membawa teknologi nuklir, sehingga secara otomatis berhadapan dengan regulasi yang lebih ketat. “Perusahaan harus patuh pada norma umum dan ketentuan khusus ketenaganukliran. Semua investor diperlakukan sama, tanpa pengecualian,” ujarnya.
Dalam sebuah diskusi di Hotel Aston Edimary sebelumnya, Pahlevi menegaskan bahwa peserta forum bukan anti-nuklir, melainkan hanya ingin memastikan penerapan norma hukum berjalan baik. Ia bahkan menyebut bahwa paparan pakar dan pihak Thorcon menunjukkan potensi keuntungan besar bagi Babel, namun hal itu tetap harus ditopang legalitas yang kuat.



















