FAKTA BERITA, PANGKALPINANG – Pernyataan keras Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Pati Jaya, kembali menyulut polemik rencana pembangunan PLTN thorium di Pulau Gelasa. Dalam agenda buka puasa bersama insan pers di Swiss Bel Hotel Pangkalpinang, ia menegaskan bahwa teknologi reaktor berbahan bakar thorium yang ditawarkan PT ThorCon Power Indonesia belum terbukti secara komersial di mana pun di dunia.
Bambang menyampaikan bahwa pengembangan PLTN harus bertumpu pada teknologi yang sudah teruji puluhan tahun, bukan konsep eksperimental yang belum memiliki rekam jejak keberhasilan global. Menurutnya, Indonesia, apalagi Bangka Belitung tidak boleh dijadikan lokasi percobaan bagi teknologi yang statusnya masih sebatas riset.
“Kalau memang teknologi thorium ini yang pertama di dunia, jangan dilakukan di Indonesia, apalagi di Bangka Belitung. Kita bicara soal teknologi yang sudah proven. Jangan sampai daerah kita menjadi tempat eksperimen,” ujar Bambang.
Pernyataan itu sekaligus mematahkan optimisme pihak pengembang yang selama ini menonjolkan narasi “lebih aman” dan “lebih modern.” Faktanya, belum ada satupun PLTN thorium skala komersial beroperasi penuh secara global. China memang telah menguji reaktor molten salt kapasitas kecil di Gurun Gobi, namun masih berstatus riset terbatas dan belum masuk tahap industri. Tanpa pembanding nyata, dunia belum memiliki ukuran pasti mengenai risiko teknis dan dampak jangka panjang reaktor thorium.
Situasi inilah yang membuat Bambang menolak PLTN thorium dibangun di pulau kecil seperti Gelasa, kawasan dengan nilai ekologis tinggi yang justru diincar untuk proyek raksasa energi. Ia menegaskan dirinya tidak anti-nuklir, tetapi teknologi harus matang dan diawasi ketat seperti reaktor uranium konvensional yang sudah digunakan luas di Amerika Serikat, Rusia, dan China.



















