NASIONAL, FABERTA — Pengamat Penerbangan Alvin Lie mendukung kebijakan manajamen PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) yang melakukan perampingan kepada jajaran direksi dan komisaris. Pasalnya, perseroan tak punya pilihan untuk mempertahankan bisnis di tengah merebaknya pandemi Covid-19 yang sangat memukul industri penerbangan.
“Apakah Garuda punya pilihan lain? Tidak kan. Manajemen wajib ramping, efektif dan gesit,” kata Alvin kepada awak media, Minggu (15/8/2021).
Menurutnya, dengan melakukan perombakan direksi dan komisaris akan memangkas beban gaji yang harus dikeluarkan perseroan. Dana itu pun dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Kendati demikian, Alvin tak mau berspekulasi mengenai kebijakan itu dapat menyelematkan maskapai penerbangan pelat merah dari kebangkrutan atau tidak. Sebab, pulihnya kondisi keuangan lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti berapa lama pandemi berlangsung dan banyaknya jumlah penumpang pesawat.
“Soal bisa diselamatkan atau tidak, banyak faktor ekseternal seperti sampai kapan pandemi berlangsung, dampak pandemi dan kebijakan atau peraturan yang terus berubah-ubah,” kata dia.
Sebelumnya, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Jumat, 13 Agustus 2021 Garuda Indonesia memangkas sejumlah direksi dan komisaris. Direktur Utama PT Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebut langkah tersebut tak terhindarkan.
“Khusus untuk direksi bahwa ini adalah sebuah upaya yang tak terhindarkan mengingat memang dari waktu ke waktu kita terus melakukan upaya-upaya pengurangan atau streamlining jumlah karyawan,” kata dia.
Sementara itu, perihal perombakan susunan jajaran komisaris, Irfan tidak dapat menjelaskan lebih lanjut, lantaran hal itu bukan merupakan bagian dari kewenangan dirinya.
“Ini mungkin lebih tepat Kementerian BUMN yang jawab,” ucap dia.
Adapun daftar nama yang diberhentikan secara hormat dari jajaran komisaris dan direksi Garuda Indonesia berdasarkan usulan dari pemegang saham Seri A Dwiwarna, yakni:



















