Target RI Produksi Energi Terbarukan di 2060 Masih Terhambat Devisa Sawit dan Batubara

  • Whatsapp
Ilustrasi/ist

JAKARTA, FABERTA — Pemerintah menargetkan pada tahun 2060 Indonesia bakal memproduksi listrik menggunakan energi baru terbarukan (EBT). Proyek tersebut akan dilakukan secara bertahap setiap tahunnya sesuai dengan peta jalan yang telah disusun.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, saat ini pemerintah tengah melakukan singkronisasi kebijakan antarkementerian. Kendati demikian, proyek itu diperkirakan sedikit terhambat lantaran ketergantungan pemerintah terhadap devisa dari sawit dan batubara sangat tinggi.

“Ini yang sedang kita bangun dan ingat ada pemasukan yang Indonesia perlukan saat ini salah satunya dari alam kita. Sekarang pemasukan Indonesia mencari dolar memang dalam kondisi yang seperti ini (pandemi Covid-19) adalah melalui sawit dan batubara,” kata Erick saat menggelar konferensi pers di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu 2 Juni 2021.

Menurut dia, kondisi tersesbut sangat memprihatinkan. Sebab, sebagian besar negara di Eropa menganggap produk sawit merupakan produk tak ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan produk sawit.

Oleh karena itu, pemerintah, kata Erick tengah melakukan negosiasi agar sawit dapat kembali diterima di Eropa. Sedangkan penggunaan batubara untuk pembangkit listrik akan dikurangi kapasitasnya secara bertahap dan beralih ke hydro power dan solar panel.

“Perubahan dari energi fosil ke renewable energy perlu uang dan investasi. Tidak mungkin yang itu (energi kotor) besok dimatikan, yang di sana itu tiga tahun lagi harus mati karena kita harus bangun energi terbarukan ini yang harus disngkronisasikan semua,” kata dia.

Sebelumnya, Institute for Essential Services Reform (IESR) meminta pemerintah untuk segera beralih ke energi terbarukan dalam memproduksi listriknya. Pasalnya, biaya produksi yang dikeluarkan lebih murah dibandingkan menggunakan batubara.

Direktur Ekeskutif IESR Fabby Tumiwa mengatakan upaya tersebut merupakan gebrakan baru yang patut dapat apresiasi. Langkah ini juga sebagai bentuk tanggung jawab masyarakat Indonesia dalam menjaga kelestarian alam dan perubahan iklim.

“Kalau PLTU sekarang kalau bangun pembangkit baru harga produksi listrik USD6,5 sen per kwh, sementara PLTS yang pembangunnya oleh PLN itu harganya USD5,8 sen per kwh,” kata Fabby, Jumat 28 Mei 2021.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *